新闻是有分量的

Pengalaman Rebecca Henschke menjadi koresponden asing di Indonesia

发布时间:2017年10月30日上午6:44
更新时间:2017年10月30日上午6:51

PELIPUTAN。 Rebecca Henschke saat proses peliputan。 Foto dari dokumen pribadi丽贝卡。

PELIPUTAN。 Rebecca Henschke saat proses peliputan。 Foto dari dokumen pribadi丽贝卡。

UBUD,印度尼西亚-Menetap di Indonesia sejak 12 tahun yang lalu,Rebecca Henschke merupakan jurnalis asal澳大利亚yang sudah mendalami dunia berita dalam negeri。 印度尼西亚baginya memiliki媒体yang sangat dinamis terutama di bagian media online yang berkembang pesat。

Bercerita mengenai pengalamannya menjadi jurnalis asing di Indonesia,Rebecca menyukai masyarakat lokal yang terbuka untuk menceritakan kisah mereka。 Di negara asalnya,masyarakat cenderung memiliki pandangan sinis terhadap media dan lebih tertutup。

“Misal saya berhenti di sawah lalu bertemu petani dan menanyakan pendapatnya soal Jokowi pasti ia tidak akan segan memberi opini。 Politisi di Indonesia pun terbuka,saya dapat menghubungi mereka melalui WhatsApp,mereka lebih rela berkomunikasi langsung tanpa repot melewati perantara,“ujar Rebecca saat diwawancarai usai berbicara dalam sesi Beyond the Front Page di Ubud作家和读者节2017 yang bertempat di Museum Neka,Ubud ,巴厘岛,pada Minggu 29 Oktober 2017。

Meningkatkan kualitas pemberitaan di dalam negeri

Rebecca melihat ada beberapa hal yang masih dapat ditingkatkan oleh jurnalis-jurnalis Indonesia dan kondisi pemberitaan dalam negeri。 Salah satunya adalah kebiasaan media untuk“mengikuti kawanan。”

Rebecca mengambil contoh ketika berita mengenai Jenderal Gatot meledak,semua media kemudian menerbitkan berita tentangnya,sementara isu-isu lain yang sama penting diabaikan。

“Selain itu banyak berita yang tidak ada kelanjutannya,媒体harus lebih sering melakukan 跟进,” ujar wanita yang menjabat sebagai编辑dari BBC Indonesia ini。

Dibandingkan pergi ke sebuah konferensi pers,Rebecca mendorong jurnalis-jurnalisnya untuk mencari tahu isu yang dibicarakan di acara tersebut,meriset&mengumpulkan data,kemudian mencari orang-orang yang terkena dampak langsung lalu mewawancarai mereka。 Hal ini guna mendapat analisis lebih dalam dari isu yang ada。 “Kita harus menambahkan argumen dan menjelaskan hal pada pembaca。 Galilah lebih dalam dan uraikan penemuan kita,“lanjutnya。

Rebecca juga menganggap jurnalis Indonesia harus bisa lebih keras terhadap petinggi-petingginya dengan cara mengajukan pertanyaan yang lebih menantang dan sulit bagi mereka。

Sebagai koresponden asing,Rebecca juga pernah menghadapi tantangan dalam proses peliputan seperti dicurigai dan merasa dimonitor saat meliput suatu kejadian。

印度尼西亚lebih dari雅加达

Bagi jurnalis asing yang ingin menjadi koresponden,Rebecca mengingatkan pada mereka untuk sadar bahwa Indonesia tidak hanya terdiri dari Jakarta。 Ia mendorong jurnalis-jurnalis asing untuk mempelajari bahasa Indonesia demi membantu proses peliputan dan untuk mengeksplorasi negeri ini lebih dalam lagi。

“Negara ini sungguh beragam dan memiliki banyak cerita yang dapat diberitakan,”jelas mantan编辑Tempo TV ini。

人类兴趣记者

Rebecca menganggap dirinya sebagai wartawan yang memiliki ketertarikan besar pada cerita-cerita human interest, ia gemar mewawancarai orang-orang biasa yang terkena dampak suatu kejadian。 Ia tertarik pada perubahan sosial dan cerita-cerita inspiratif tentang orang-orang yang menghadirkan inovasi。

Kini Rebecca dan timnya tengah mengerjakan dokumenter panjang mengenai penggundulan hutan di Sumatra serta dampak yang dirasakan oleh suku pedalaman Orang Rimba。 Baginya isu-isu perubahan lingkungan yang terjadi di Indonesia adalah berita yang sangat penting disampaikan。

“Belum banyak yang memfokuskan diri pada isu itu。 Saya sangat suka memberitakan isu lingkungan dalam format in depth, melihat dampak dan kerugian atau keuntungan yang disebabkannya,“tutup Rebecca。

BACA JUGA:

-Rappler.com